by

Rebo Wekasan alias Arba Mustakmir dan Tradisi Tolak Bala di Hari Rabu Terakhir Bulan Safar

-Viral-29 views

Maminez.com. Rebo Wekasan alias Arba Mustakmir dan Tradisi Tolak Bala di Hari Rabu Terakhir Bulan Safar. Besok adalah Rabu terakhir di Bulan Safar. Masyarakat Banjar, biasa mengenalnya dengan sebutan Arba Mustakmir. Sementara tradisi Jawa dikenal dengan Rebo Wekasan.

Arba Mustamir atau Rebo Wekasan merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut hari Rabu terakhir di bulan Safar masih diyakini sebagian kalangan masyarakat sebagai hari yang sakral.

Konon di hari Arba Mustakmir atau Rebo Wekasan adalah hari datangnya 320.000 bala, sumber penyakit dan marabahaya 20.000 bencana. Maka rata-rata tradisi yang dilaksanakan adalah bersifat tolak bala.

Karenanya menjadi semacam kebiasaan sebagian bagi masyarakat Banjar untuk melakukan hal-hal tertentu untuk menghindari kesialan pada hari itu, misalnya;

1) Sholat sunnah mutlak disertai doa tolak bala,

2) Selamatan kampung, biasanya disertai dengan menulis wafak di atas piring kemudian dibilas dengan air, seterusnya dicampurkan dengan air di dalam drum supaya bisa dibagi-bagikan kepada orang banyak untuk diminum,

3) Mandi Safar untuk membuang sial, penyakit, dan hal-hal yang tidak baik. Mandi Safar ini menjadi atraksi wisata menarik di Kal-Teng yang dipromosikan. Mandi Safar ini merupakan tradisi masyarakat yang mendiami tepian sungai Mentaya,

4) Tidak melakukan atau bepergian jauh,

5) Tidak melakukan hal-hal yang menjadi pantangan, dan sebagainya.

Ratusan warga Kampung Cangkring dan sekitarnya Kecamatan Tapin Utara, Kabupaten Tapin, menggelar acara tolak bala dengan cara berjalan kaki mengelilingi kampung, Rabu (10/10/2018) malam.

Ambil contoh yang dilakukan sebagian masyarakat Tapin yang mengunjungi makam Datu Sanggul di Kecamatan Tapin Selatan pada Rabu (9/1/2012) lalu.

Banyaknya umat Islam mengunjungi Makam Datu Sanggul ini karena bertepatan dengan Arba Mustamir, yaitu hari Rabu terakhir Bulan Syafar yang bagi sebagian umat Islam diyakini sebagai hari sakral.

Umat Islam yang hadir di Makam Datu Sanggul itu mulai anak-anak, remaja bahkan puluhan PNS berbaju seragam turut hadir.

“Kami datang ke Makam Datu Sanggul ini berombongan sesama guru sekolah, sebab hari ini Arba Mustamir, kata orang Arba Mustamir ini bala diturunkan karena itu kami mengunjungi makam untuk menolak bala tersebut,” jelas seorang PNS Tapin yang mengunjungi makam itu dikutip dari Bpost Online.

Sudah menjadi tradisi sebagian warga Tapin, setiap Arba Mustamir, mereka banyak mengunjungi makam, jelasnya lagi.

Banyak Umat Muslim Laksanakan Sholat Rebo Wekasan atau Arba Mustakmir, Ini Hukumnya Dalam Islam

Arba Mustakmir atau Rebo Wekasan, Rabu Pamungkas di bulan Safar kalender Hijriah seringkali diperingati dengan berbagai ritual keagamaan.

Arba Mustakmir atau Rebo Wekasan biasa diperingati malam Rabu dan pada bulan ini jatuh pada Selasa (6/11/2018) malam ini.

Di Indonesia, ritual sholat Rebo Wekasan atau di adat Banjar disebut Arba Mustakmir bukan hal baru. Dikutip dari NU Online, Rebo Wekasan banyak dibahas mulai dari sejarah, ritual-ritual atau musibah-musibah yang diasumsikan pada hari tersebut, termasuk yang sering ramai diperbincangkan adalah ritual salat Rebo wekasan.

Baca Juga :   Viral Kisah Malin Kundang di Bali, Ibu Tak Diakui Anaknya yang Hendak Nikahi Bule

Menurut fiqih, pada dasarnya tidak ada penjelasan yang menganjurkan sholat Rebo Wekasan. Oleh karenanya, bila salat Rebo Wekasan diniati secara khusus, misalnya “aku niat salat Shafar”, “aku niat salat Rebo wekasan”, maka tidak sah dan haram. Hal ini sesuai dengan prinsip kaidah fiqih:

والأصل في العبادة أنها إذا لم تطلب لم تصح

“Hukum asal dalam ibadah apabila tidak dianjurkan, maka tidak sah.” (Syekh Sulaiman al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib Hasyiyah ‘ala al-Iqna’, juz 2, hal. 60).

Atas pertimbangan tersebut, ulama juga mengharamkan salat Raghaib di awal Jumat bulan Rajab, salat nishfu Sya’ban, shalat Asyura’ dan salat kafarat di akhir bulan Ramadan. Sebab salat-salat tersebut tidak memiliki dasar hadits yang kuat.

Ditegaskan dalam kitab I’anah al-Thalibin:

قال المؤلف في إرشاد العباد ومن البدع المذمومة التي يأثم فاعلها ويجب على ولاة الأمر منع فاعلها صلاة الرغائب اثنتا عشرة ركعة بين العشاءين ليلة أول جمعة من رجب وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة وصلاة آخر جمعة من رمضان سبعة عشر ركعة بنية قضاء الصلوات الخمس التي لم يقضها وصلاة يوم عاشوراء أربع ركعات أو أكثر وصلاة الأسبوع أما أحاديثها فموضوعة باطلة ولا تغتر بمن ذكرها اه

“Sang pengarang (syekh Zainuddin al-Malibari) berkata dalam kitab Irsyad al-‘Ibad, termasuk bid’ah yang tercela, pelakunya berdosa dan wajib bagi pemerintah mencegahnya, adalah shalat Raghaib, 12 Rakaat di antara maghrib dan Isya’ di malam Jumat pertama bulan Rajab, shalat nishfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat, shalat di akhir jumat bulan Ramadhan sebanyak 17 rakaat dengan niat mengganti shalat lima waktu yang ditinggalkan, shalat hari Asyura sebanyak 4 rakaat atau lebih dan shalat ushbu’. Adapun hadits-hadits shalat tersebut adalah palsu dan batal, jangan terbujuk oleh orang yang menyebutkannya.” (Syekh Abu Bakr bin Syatha, I’anah al-Thalibin, juz 1, hal. 270).

Dijelaskan lebih lanjut, hanya saja bila shalat Rebo Wekasan diniati salat sunah mutlak, ulama berbeda pandangan.

Menurut Hadlratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari haram.

Dalam pandangan beliau, anjuran shalat sunah mutlak yang ditetapkan berdasarkan hadits shahih tidak berlaku untuk shalat Rebo Wekasan, sebab anjuran tersebut hanya berlaku untuk shalat-shalat yang disyariatkan.

Dalam himpunan fatwanya, Rais Akbar NU tersebut mengatakan dalam tulisan bahasa Jawa pegon:

اورا ويناع فيتواه اجاء اجاء لن علاكوني صلاة رابو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت اع سؤال كارنا صلاة لورو ايكو ماهو اورا انا اصلى في الشرع. والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها كايا كتاب تقريب، المنهاج القويم، فتح المعين ، التحرير لن سافندوكور كايا كتاب النهاية المهذب لن احياء علوم الدين، كابيه ماهو أورا انا كاع نوتور صلاة كاع كاسبوت. الى ان قال وليس لأحد أن يستدل بما صح عن رسول الله انه قال الصلاة خير موضوع فمن شاء فليستكثر ومن شاء فليستقلل، فإن ذلك مختص بصلاة مشروعة

Baca Juga :   VIRAL! Pria Berbadan Tegap dan Kepala Plontos Pukul Bocah Ingusan Hingga Berdarah Tepat di Hari Raya Idul Adha 2018

“Tidak boleh berfatwa, mengajak dan melakukan shalat Rebo Wekasan dan shalat hadiah yang disebutkan dalam pertanyaan, karena dua shalat tersebut tidak ada dasarnya dalam syariat. Tendensinya adalah bahwa kitab-kitab yang bisa dibuat pijakan tidak menyebutkannya, seperti kitab al-Taqrib, al-Minhaj al-Qawim, Fath al-Mu’in, al-Tahrir dan kitab seatasnya seperti al-Nihayah, al-Muhadzab dan Ihya’ Ulum al-Din. Semua kitab-kitab tersebut tidak ada yang menyebutkannya. Bagi siapapun tidak boleh berdalih kebolehan melakukan kedua shalat tersebut dengan hadits shahih bahwa Nabi bersabda, shalat adalah sebaik-baiknya tempat, perbanyaklah atau sedikitkanlah, karena sesungguhnya hadits tersebut hanya mengarah kepada shalat-shalat yang disyariatkan.” (KH. Hasyim Asy’ari sebagaimana dikutip kumpulan Hasil Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur).

Sedangkan menurut Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki hukumnya boleh.

Menurut beliau, solusi untuk membolehkan shalat-shalat yang ditegaskan haram dalam nashnya para fuqaha’ adalah dengan cara meniatkan shalat-shalat tersebut dengan niat shalat sunah mutlak. Beliau menegaskan:

قلت ومثله صلاة صفر فمن أراد الصلاة فى وقت هذه الأوقات فلينو النفل المطلق فرادى من غير عدد معين وهو ما لا يتقيد بوقت ولا سبب ولا حصر له . انتهى

“Aku berpendapat, termasuk yang diharmkan adalah shalat Shafar (Rebo wekasan), maka barang siapa menghendaki shalat di waktu-waktu terlarang tersebut, maka hendaknya diniati shalat sunah mutlak dengan sendirian tanpa bilangan rakaat tertentu. Shalat sunah mutlak adalah shalat yang tidak dibatasi dengan waktu dan sebab tertentu dan tidak ada batas rakaatnya.” (Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki, Kanz al-Najah wa al-Surur, hal. 22).

Shalat Rebo Wekasan sendiri dijelaskan secara rinci meliputi tata cara dan doanya oleh Syekh Abdul Hamid Quds dalam Kanz al-Najah wa al-Surur.

Demikian pula disebutkan oleh Syekh Ibnu Khatiruddin al-Athar dalam kitab al-Jawahir al-Khams. Shalat Rebo Wekasan umum dilakukan di beberapa daerah, ada yang melakukannya secara berjemaah, ada dengan sendiri-sendiri.

Berbagai pandangan ulama seperti yang dijelaskan adalah hal biasa dalam fiqih. Masing-masing memiliki argumen yang dapat dipertanggungjawabkan, perbedaan tersebut tidak untuk dipertentangkan. Wallahu a’lam bishawab!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *